KATA MUTIARA BIJAK MATA NAJWA METRO TV



KUMPULAN KATA MUTIARA BIJAK TERBARU MATA NAJWA METRO TV CATATAN NAJWA mungkin sebelum melanjutkan berita menarik ini baca juga berita sebelumnya yang berjudul Pembagian Grup Piala Dunia 2014 Brazil pada kesempatan berikut ini akan mengulas Kata Mutiara Bijak Mata Najwa Tentang Korupsi di acara Catatan Najwa Di Metro TV silahkan baca baik-baik dibawah ini ::



Sebuah tanda republik celaka, tercermin pada laku penguasa.

Senang memilih jalan mudah, gentar mengubah kebiasaan lama.

Pemimpin yang berubah menjadi pejabat, seketika malas untuk berbuat.

Nyaman dalam aturan baku, meski sebenarnya membelenggu.

Kekuasaan bukan untuk digenggam, melainkan untuk digunakan.

Kekuasaan yang tak dipertaruhkan, pertanda tak ada tujuan.

Pemimpin itu mendobrak keadaan, bukan mengokohkan kemapanan.


Di negeri yang penuh muslihat, korupsi seolah jadi perkara lumrah.

Perburuan menjadi paling kaya, menjadi hobi para abdi negara.

Korupsi merajalela tanpa henti, dicontohkan pejabat silih-berganti.

Atas nama partai bahkan agama, korupsi selalu menemukan justifikasi.

Mari berani melawan, menolak korupsi menjadi kewajaran.

Menjaga negeri diambang ambruk, mengawal penegakan hukum yang hampir bangkrut.

Menjadi lapisan generasi baru, yang punya rasa malu dan tabu jadi benalu.


Tokoh perubahan datang alamiah, tanpa kosmetik dan permainan citra.

Tercipta bukan polesan sesaat, namun kiprah dan pengakuan orang banyak.

Mereka tidak besar dari atap menara, tetapi mengakar dari bawah.

Karakter mereka hasil tempaan, bukan jatuh dari langit kekuasaan.

Karya mereka dibangun dalam sunyi, dengan ikhlas karena cinta pada negeri.

Mereka muncul melawan arus, mendobrak kemapanan yang terlanjur serius.

Mereka datang membuat perbedaan, bukan pelan-pelan menumpuk jabatan.



Wajib bagi pemimpin muda politik, bekerja dengan kesadaran publik.

Pemimpin muda harus punya cara, mengikis buruknya kebiasaan lama.

Mengubah watak kekuasaan, dari mental raja menjadi sejenis pelayan.

Pejabat yang ingin menyenangkan semua, tak akan bisa mengubah apa-apa.

Kaum mapan adalah musuh utama, bagi pemimpin untuk mengubah kota.

Galak demi membela rakyat lemah, marah karena menyelesaikan masalah.

Menampilkan contoh nyata, melawan kepentingan privat yang menggila.

Rakyat tidak bodoh dan tuli, mereka tahu siapa pemimpin yang peduli.


Tokoh perubahan datang alamiah, tanpa kosmetik dan permainan citra.

Tercipta bukan polesan sesaat, namun kiprah dan pengakuan orang banyak.

Mereka tidak besar dari atap menara, tetapi mengakar dari bawah.

Karakter mereka hasil tempaan, bukan jatuh dari langit kekuasaan.

Karya mereka dibangun dalam sunyi, dengan ikhlas karena cinta pada negeri.

Mereka muncul melawan arus, mendobrak kemapanan yang terlanjur serius.

Mereka datang membuat perbedaan, bukan pelan-pelan menumpuk jabatan.


Kumpulan Kata Kata Mutiara Bijak Paling Baru Mata Najwa Metro TV Tentang Korupsi


Di Indonesia sudah menjadi biasa, melihat warga terlunta-lunta.

Layanan publik dibisniskan, urusan warga jadi dagangan.

Orang miskin jadi korban, lantaran dianggap hanya diam.

Pelayanan jadi sapi perah, kewajiban terlacur menjadi hadiah.

Kesadaran publik lama absen, saat warga dimaknai sebagai konsumen.

Birokrasi menjadi pemangsa, seiring lenyapnya daulat warga.

Pejabat publik tutup mata, uang haram tak lagi berdosa.

Sekeras itu hukum dibuat, sepandai itu pula praktek muslihat.

Hukum yang ditegakkan dengan retorika, hanya jadi bahan tertawa belaka.


Demokrasi tanpa para demokrat, membuat kuasa miskin legitimasi rakyat.

Pemilukada jadi urusan pecah-belah, ketika politik hanya soal menang-kalah.

Yang menang berlaku curang, yang kalah tak mau menerima kenyataan.

Kekerasan terpilih sebagai cara, hukum dilecehkan amuk massa.

Elit berlaku bak raja, warga berposisi bagai hamba kawula.

Hak politik diubah seperti hadiah, kewajiban dibuat sebentuk kebaikan.

Pemilih disiapkan menjadi tameng massa, membela elit yang bersengketa.

Ketika konflik berdarah kerap berulang, itu berarti kita hidup di negara yang bebal.


Kisah politik & kuasa, tak pernah lepas dari dukun dan dupa.

Semakin instan hidup bergerak, semakin marak dukun bertindak.

Fenomena klenik menguat, seturut egoisme politik yang mencuat.

Dunia santet dirambah, untuk sejengkal kuasa yang durhaka. 

Jabatan menjadi berhala, ketika penguasa lebih sayang dukunnya.

Kekuasaan menjadi permainan, saat takhayul dilembagakan.

Obsesi jabatan yang kekal, mendekatkan penguasa ke paranormal.

Nasib rakyat sering terlupa, sebab kepada dukun mereka percaya.


Politik tak pernah abadi, Politisi bisa berkali-kali mati dan hidup lagi.

Sekarang ini jaman melodramatik, Politik intrik seolah begitu menarik.

Layaknya sinetron penuh tangis, tokoh politik berebut peran menjadi sang protagonist.

Yang piawai membangun opini, akan merebut simpati dan memenangkan persepsi.          

Para elit menghaluskan caci-maki, tentang sengkuni dan perasaan terzalimi.

Membungkus serangan bersayap, Menyingkirkan lawan lewat kekuasaan.

Bisakah para elit penguasa, mengolah konflik politik secara dewasa.

Begitu banyak energi publik habis, oleh suguhan politik yang picis.

Hidup rakyat sudah terlalu susah, yang diatas malah mengumbar masalah.


Wajah penjara cermin hukum negara, sungguh-sungguh atau pura-pura.

Penjara semestinya nestapa dunia, bukan sebisanya menjadi surga.

Koruptor harusnya menyesal & sadar, bukan malah kembali melanggar.

Hukum yang memuat harga, mengubah lapas jadi persinggahan mewah.

Koruptor menjadi napi, menyulap fasilitas bui hanya soal transaksi.

Ikhtiar serius untuk membenahi, tentu perlu diapresiasi.

Tidak mungkin satu Wakil Menteri, bekerja seorang diri.

Sistem yang mudah terbeli, tak akan berubah hanya dengan rajin inspeksi.

Buat apa memberantas korupsi, jika bui sejati hanya untuk kelas teri.


Kekerasan semakin berjaya, di hadapan negara yang tak berdaya.

Politik identitas mengeras, perbedaan ditingkahi dengan fatwa sesat.

Ketegangan agama & negara, membutuhkan pemimpin berwibawa.

Negarawan yang taat konstitusi, bukan menyerah pada selera politisi.

Bijak mengelola perbedaan, dalam kerukunan dan bukan permusuhan.

Indonesia menjadi mengerikan, saat kaum intoleran terus dibiarkan.

Seorang penjaga toleransi, mendahulukan rekonsiliasi dari relokasi.

Toleransi tidak tegak karena penghargaan, melainkan tegasnya tindakan.


Soekarno sosok gegap-gempita, presiden yang tak lekang oleh masa.

Dia adalah jendela Indonesia, menyatu dengan nasib bangsa-bangsa terjajah.

Dalam usia begitu muda, bersama Hatta mengobarkan kehendak merdeka.

Diplomasinya begitu berkelas, dia & Indonesia seperti satu tarikan nafas.

Sang ideolog dalam wujud nyata, pemikir dalam sikap otentik yang terjaga.

Terlahir dengan selera mendunia, pengagum wanita tanpa pura-pura.

Dalam politik yang terlahir durhaka, Bung Karno mati sebagai tahanan kota.

Begitu mudah dicintai rakyatnya, dalam kebenaran & kontroversi hidupnya.


 Di negeri yang penuh muslihat, korupsi seolah jadi perkara lumrah.

Perburuan menjadi paling kaya, menjadi hobi para abdi negara.

Korupsi merajalela tanpa henti, dicontohkan pejabat silih-berganti.

Atas nama partai bahkan agama, korupsi selalu menemukan justifikasi.

Mari berani melawan, menolak korupsi menjadi kewajaran.

Menjaga negeri diambang ambruk, mengawal penegakan hukum yang hampir bangkrut.

Menjadi lapisan generasi baru, yang punya rasa malu dan tabu jadi benalu.


Jakarta kota limpahan ilusi, mimpi-mimpi warga yang tak bisa terbeli.

Penguasa dipilih silih-berganti, namun sistem hidup Jakarta kian menambah frustasi.

Kota yang dibentuk logika pasar, mendahulukan siapa yang mampu bayar.

Pembangunan berselera privat, memamerkan jarak sosial yang menyengat.

Semakin menor Jakarta terlihat, logika publiknya sungguh jauh tersesat.

Gubernur boleh berkuasa, tapi pemangku Jakarta sejatinya adalah warga ibukota.

Tak akan ada perubahan, jika kita bertikah bak tuan/ yang tak mau turun tangan.

Selamat ulang tahun Jakarta, kau tampak tua dan benar-benar lelah.

Hanya ini saja berita paling terbaru yang dapat disampaikan mengenai hal Kumpulan Kata-Kata Mutiara Bijak Paling Terbaru Catatan Mata Najwa Metro TV Tentang Korupsi


Ditulis oleh: MIKHA ANGELO - - Rating: 5
Terima kasih sudah membaca artikel ini dengan judul KATA MUTIARA BIJAK MATA NAJWA METRO TV dengan Link URL http://mikhaangelos.blogspot.com/2013/12/kata-mutiara-bijak-mata-najwa-metro-tv.html. Salam Djimba Mikha Angelo Lovers